1 December 2015

Kisah Sedih, Pedagang Kecil yang Dagangannya Ditawar


Uang memang tidak bisa dimakan, tapi dengan uang seseorang bisa membeli makanan. Ini bukan zaman dimana segalanya bisa didapat dari alam. Terlebih ketika hidup di perkotaan yang tiada halaman bisa ditanam benih-benih sumber makanan. Setiap hari hanya terlihat gedung tinggi menjulang dengan aktivitas lalu lalang orang yang malang, mengaku kehidupannya tercukupi karena sibuk mencari uang padahal tidak ada waktu yang bisa dinikmati.


Suka menawar dagangan pedagang kecil? Mungkin Anda mesti pikir-pikir lagi

 Karena uang juga manusia berlaku tak manusiawi, ketakutan kehilangan uang sebab sulit dicari. Pelit menjadi salah satu sifat seseorang yang juga mendewakan uang. Beberapa orang bahkan suka menawar ke pedagang kecil hanya karena merasa tidak sebanding uang yang dikeluarkan hanya untuk membeli barang di tempat yang tidak sekelas supermarket.

Harga Tak Sebanding dengan Usahanya

Orang-orang seperti itulah yang membuat pilu seorang pedagang kecil bernama Mbah Atmo Slamet. Seorang kakek tua berusia 90 tahun yang masih berjualan sapu ijuk dan sapu lidi keliling. Dengan langkah yang sekuat saat muda, belum lagi sengatan matahari yang menerpanya, ia menjual satu sapu seharga Rp 6.000 (enam ribu rupiah).

Hanya sebuah unit becak, ia membawa sapu-sapu itu keliling Dlingo, salah satu kecamatan di Bantul, Yogyakarta. Andai semua sapu itu laku, sang kakek hanya akan menerima 90.000 rupiah saja. Itu baru omset, belum dikurangi modal. Sementara sebuah sapu dengan harga enam ribu itu hanya seribu rupiah keuntungannya.

Selengkapnya, baca langsung di sini

=====================================